Alamatnya terletak di Jl. Kolonel Masturi No.145, Jayagiri, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat 40391. Mungkin belum banyak orang awam yg tahu soal tempat ini. Tempat ini sebenarnya rumah biasa namun ketika masuk ke area rumah tersebut kalian akan melihat seperti tenda pleton yg jika kita masuk kedalamnya adalah ruang untuk berekspersi. Ya, dalam tenda tersebut sering dijadikan gigs musik terutama untuk skena punk. Klub Racun sangat dikenal dalam skena musik underground/punk dari luar kota hingga luar negeri. 




Sudah 13 tahun sejak Tool merilis album full-length terakhir mereka, 10.000 Days, pada tahun 2006. Sekarang, setelah lebih dari satu dekade desas-desus, permulaan yang salah, dan diskusi internet yang gila, waktunya akhirnya tiba: Album baru tool, Fear Inoculum , sekarang tersedia.

Kisah yang mengarah ke Fear Inoculum telah menjadi bertingkat dan mengesankan. Band ini mengumumkan nama album pada akhir Juli, diikuti segera setelah dengan mengungkapkan sampul album pada bulan Agustus.

Ketika Tool merilis lagu utama dari album, lagu itu dengan cepat menjadi lagu terpanjang yang pernah memecahkan Top 10 Billboard. Selain itu, band ini akhirnya menempatkan katalog belakang mereka pada layanan streaming bulan ini, yang menyebabkan mereka menjadi band pertama yang memiliki lagu di semua 10 slot di chart Penjualan Rock Billboard.

Kerrang! memberi Fear Inoculum Five-K! ulasan album, dengan penulis Nick Ruskell mengatakan, “Ada momen yang klasik untuk band ini, tetapi yang lebih penting ada poin yang hampir akan membuat Anda tertawa ketika Anda bertanya-tanya apa yang mereka pikirkan termasuk mereka dalam album dengan harapan yang begitu berat dan penting. Lagi pula, Anda hanya bisa memecah keheningan sekali. Di sini Alat telah melakukan itu sambil mempertahankan tingkat kerahasiaan yang gila. Anda tidak akan pernah tahu arti dari semua ini, atau apa yang dimaksud Maynard ketika dia menyanyikan, 'Usir pengamat tontonan / Usir pengusir setan / Eksorsikan yang berlainan' - tetapi Anda juga tidak mau, karena misteri ini adalah sebuah karya seni yang licik. dalam dirinya sendiri.

“Alih-alih jatuh ke dalam keangkuhan,” lanjut ulasan itu, “mengetahui bahwa bahkan persembahan yang paling seperempat pun akan habis dimakan, alih-alih yang kita miliki adalah sebuah album yang mendorong dan menantang para pencipta dan pemirsanya dengan cara baru, lebih baik. rincian yang mungkin akan memakan waktu 13 tahun lagi untuk sepenuhnya terbuka dan menghargai.

"Jadi, akhirnya di sini. Sekarang nikmatilah dirimu sendiri - sudah sepadan dengan menunggu. "

source: https://www.kerrang.com/the-news/listen-to-tools-new-album-fear-inoculum-here/


Di yakini sebagai lagu heavy metal pertama didunia. Black sabbath rilis pada 13 Februari 1970. Periode itu lagu ini seperti big bang bagi dunia musik. Dalam sejarahnya heavy metal pertama lahir dan menjadi beekembang hingga sekarang. kengerian mulai padas detik awal lagu ini di play. Tony Iommi tak sungkan memakai devil tri tone yg waktu itu di anggap tabu dimainkan.




Film-film tentang drama keluarga sudah umum di bioskop, tetapi pilihan penulis-sutradara Islandia Ragnar Bragason (dikenal dengan Bjarnfreðarson - 2009) untuk menempatkan heavy metal di latar depan adalah sebuah inovasi, jadi Málmhaus (judul asli) atau Metalhead (judul bahasa Inggris) menonjol dibandingkan dengan narasi serupa lainnya. Cerita ini menunjukkan bagaimana kehilangan seorang anak dalam kecelakaan tragis dapat memengaruhi kehidupan sebuah keluarga dan juga seluruh komunitas kecil di pedesaan Islandia. Protagonis plot adalah Hera, diperankan oleh Þorbjörg Helga Þorgilsdóttir (dikenal dengan Djúpið - The Deep - 2012), yang menyaksikan kematian kakaknya oleh traktor ketika dia baru berusia 12 tahun, pada tahun 1983. Trauma, kecewa dengan hidup dan dengan imannya yang benar-benar terguncang, dia memutuskan untuk mencari kenyamanan dalam gaya musik heavy metal yang sangat dicintai saudara lelakinya.

Setelah pengantar awal ini, Bragason membawa kita ke awal tahun 90-an, berbicara dengan karakter utama yang sudah dewasa. Dengan penampilan suram dan melankolis, selalu mengenakan jaket kulit dan pakaian hitam, Hera sekarang cukup mahir dengan cara hidup black metal. Dia mengasingkan diri dari dunia luar dan terputus dari komunitas kecil tempat dia tinggal. Satu-satunya saat keseimbangannya tampaknya berada di sebelah gitarnya, yang dengannya dia mengambil risiko untuk menyusun musiknya sendiri, atau ketika dia mendengarkan kaset kasetnya atau membaca majalah di kamarnya.

Kehadiran Hera mengganggu orang tuanya. Tidak dapat membebaskan diri secara emosional dan psikologis dari ingatan akan tragedi itu, ia hidup melakukan kejahatan kecil dalam tindakan penghancuran diri dan menyebabkan kebingungan di lingkungan tempat tinggalnya. Gaya berpakaian dan kepribadiannya juga merupakan bentuk menyakitkan dari orang tuanya mengingat anak mereka yang sudah meninggal. Ini tercermin dalam depresi ibunya, Droplaug, yang diperankan oleh Halldora Geirharðsdóttir (dikenal karena Englar alheimsins - Malaikat Semesta - 2000 dan Hross í oss - Of Horses and Men - 2013), dan dalam penderitaan tersembunyi ayahnya, Karl, ditafsirkan oleh Ingvar Eggert Sigurðsson (ia berakting di Englar alheimsins - Angels of the Universe - 2000, Myrin - Jar City - 2006, Hross í oss - Of Horses and Horses - Of Horses and Men - 2013 dan Everest - 2015). Dengan demikian, masing-masing mengalami kesedihan dan rasa sakit dengan cara mereka sendiri, tetapi jelas bahwa kecelakaan itu membahayakan keharmonisan keluarga.



Dengan pandangan intim khusus tentang gerakan logam berat dan logam hitam, Bragason melakukan di Metalhead sebuah produksi dengan karakteristik yang cukup pribadi, mencetak seluruh referensi skrip yang dikutip dengan cermat dan terkait dengan soundtrack. Melalui musiklah sang sutradara mengekspresikan dan memaparkan keadaan psikologis dan emosional si protagonis, mulai dari perasaannya hingga konflik internalnya. Penggemar genre, selain pengakuan lagu, akan senang dengan Korban Perubahan (Judas Priest), Heartless World (Teaze), Run For Your Life (Kerusuhan), Strange Wings (Savatage), Me Against the World (Lizzy) Borden), Am I Evil? (Diamond Head), Symphony of Destruction (Megadeth), Í Helli Loka (Sólstafir) dan Svarthamar (Pétur Ben & Þorbjörg Helga Þorgilsdóttir - Málmhaus).

Simbolisme hadir sepanjang film. Pakaian, musik, melankolis atau ketidakjelasan, cat mayat (cat wajah hitam dan putih), kematian, agama, dalam skenario seperti gereja atau kuburan, di musim dingin yang pahit di musim dingin, dan bahkan dalam karakter Norwegia, referensi untuk Øystein Aarseth (Euronymous) dan Per Yngve Ohlin (Mati), anggota pendiri band black metal Norwegia Mayhem, tanah yang menciptakan subkultur dari black metal Norwegia. Beberapa film dokumenter membahas dan menggambarkan kali ini, seperti Den Svarte Alvor - The Black Seriousness (1994), Setan Rir Media - Setan Rides Media (1998), Once Upon a Time di Norwegia (2007) dan Once the Light Takes Us (2008) .

Berpegang teguh pada detail periode adalah titik kuat lain dari film ini, memberikannya nostalgia tertentu pada era 80-an dan 90-an. Kami memiliki pemutar rekaman dan rekaman vinil, kaset dan walkman, peralatan rumah tangga, seperti microwave, TV tabung katoda dan kaset video VHS dan mobil, semuanya dengan setia menggambarkan periode yang dimaksud. Bidikan indah Islandia dan saat-saat humor hitam melunakkan masalah rumit yang dibahas dalam narasi, kontras dengan kehancuran batin protagonis. Penampilan Þorbjörg Helga Þorgilsdóttir adalah salah satu yang menarik dari film ini, memberikan kejujuran pada kisah karakter utama.

Metalhead adalah film yang didasarkan pada tema universal, musik, yang menggunakannya untuk menunjukkan bagaimana orang menghadapi rasa sakit, kehilangan, dan penderitaan. Cerita ini menunjukkan pencarian identitas dan diri sendiri, upaya untuk menemukan makna kehidupan yang melampaui musik.

source: https://vikingbyheart.blogspot.com


Oke, kesampingkan dulu pikiran stereotype kalian tentang anak-anak musik cadas yang identik dengan drugs, alkohol dan sejenisnya, karena saya akan berbicara tentang Straight Edge.

Sebelumnya, saya mau jelaskan sedikit apa itu Straight Edge. Straight Edge lahir di awal tahun 80an dalam sub kultur Hardcore/punk. Kemuakan sekelompok anak muda akan situasi dimana teman-teman dan saudara-saudara mereka meninggal karena drugs. Aksi pemberontakan untuk menolak drugs ini semakin kuat ketika bermunculan band-band seperti Teen Idles dan Minor Threat yang bersuara tentang gaya hidup baru yang lebih sehat.

Kaum Straight Edge biasanya menandai punggung tangan mereka dengan simbol “X”. Penandaan simbol ini berawal di sebuah club bernama Mabuhay Gardens, San Fransisco dimana Teen Idles akan manggung, pihak club memberikan  tanda “X” di punggung kedua tangan mereka sebagai tanda masih dibawah umur, dan pekerja di club tersebut tidak diperbolehkan memberikan alkohol kepada mereka. Kebiasaan ini mulai diikuti oleh club-club lainnya dan dalam beberapa tahun tanda “X” di tangan menjadi simbol yang pride untuk kaum Straight Edge.

Straight Edge adalah sikap politis, paham dimana anda memilih komitmen untuk hidup sehat, tidak mengkonsumsi drugs, alkohol, tidak merokok dan tidak melakukan seks.



Yang jadi sorotan saya soal komitmen Straight Edge adalah bukan di anti drugs/alkohol dan anti rokoknya, tapi di permasalahan seks. Masa iya kultur barat yang notabenenya sangat liberal tapi mengumandangkan hal tersebut? Secara harfiah, Straight Edge memang seperti itu. Mungkin dasar ideologi tersebut ada karena  penggalan lirik Minor Threat – Out of Step “I don’t drink, I don’t smoke, I don’t fuck”

Kalau begitu, saya akan kaji penggalan lirik sehat tersebut dengan akal sehat saya.

I don’t drink: Saya tidak mau minum-minuman beralkohol.

I don’t Smoke: Saya tidak mau merokok.

I don’t fuck: Saya tidak melakukan seks! Eh, tapi..

Berpacu dalam konteks Anti-Promiscuity yang dalam benak kita pasti terpikir hipokrasi dan irrasional. Karena pada kenyataannya ternyata Anti-Free Sex pada Straight Edge menurut saya adalah satu-satunya self rule yang “bisa dikondisikan”. Dari pengakuan temen-temen Straight Edge yang saya kenal, ada yang tidak melakukannya sama sekali sampai nikah, ada yang melakukannya hanya sama pasangannya saja, dan ada juga yang melakukan casual-sex atas dasar suka sama suka. Well, seks itu pilihan. Pilihan yang susah untuk ditolak.

Di Indonesia, ideologi Straight Edge dimulai pada awal tahun 90an, dimana band-band Straight Edge bermunculan seperti Straight Answer, Thinking Straight (Jakarta), Blind To See (Bandung) dan Violent Order (Malang). Pengaplikasian Straight Edge di Indonesia sedikit banyaknya dipengaruhi oleh faktor agama yang kental akan pelarangan serupa dan dikembalikan lagi pada kontrol individu masing-masing.

Pada tahun 2002 saya sendiri pernah bermain drum untuk salah satu band Straight Edge di Jakarta, pada tahun 2006 saya memutuskan untuk keluar dari band tersebut karena pada akhirnya saya merasa tidak nyaman. Di panggung mereka selalu bersuara tentang Straight Edge, sedangkan saya di belakang drum dalam keadaan mabuk :p

Straight Edge di Indonesia sekarang ini semakin banyak jumlahnya, mereka tidak berkubu dan tidak bergaul secara eksklusif. Fenomena aneh dan lucu yang terjadi di Indonesia saat ini adalah Straight Edge seringkali disangka brand/merk clothing, dengan banyaknya pertanyaan “beli merch Straight Edge dimana ya?”. Hal ini terjadi karena kurangnya edukasi atau memang pada dasarnya orang tersebut nyaman di fase poser, tidak mau mencari tahu arti dari filosofi Straight Edge itu sendiri.

Bersuara tentang hal yang anda yakini itu sah-sah aja, asal fanatisme anda tidak berlebihan bahkan menganggap orang lain yang tidak sepaham dengan anda adalah musuh. Seperti sekelompok Straight Edge militan di Boston yang menamakan diri mereka FSU (Friends Stand UP), mereka memukuli orang-orang yang mabuk, merokok atau mengeroyok orang yang habis pulang party dari night club. Kemudian pada akhirnya FSU ini sendiri malah dibenci di  skena Straight Edge itu sendiri. “Friends Stand Up turned out to be Fuck Shit Up”

Berlebihan tidak sih ketika ada sekelompok anak Hardcore/punk yang berbicara tentang hidup sober? Mereka sok suci? Atau merasa orang yang paling bener? Jawabannya adalah tergantung. Kalau soal band Straight Edge yang membuat lirik lagu dengan menyuarakan hidup sober atau memakai kaos bertuliskan “Smoking Isn’t Cool Anymore” tapi mereka tetap menghormati kawan-kawannya yang bukan Straight Edge, itu bagus. Akan berlebihan ketika mulai melakukan tindakan-tindakan disrespect seperti yang dilakukan kelompok FSU di Boston. Intinya adalah menghargai satu sama lain.

Saya sendiri salut sama orang yang punya komitmen dan menjalani komitmennya itu sampai saat ini. Karena menurut saya, komitmen itu tidak sekedar komat-kamit, tapi harus komit.

Source: Gofar Hilman (Lawless Jakarta)


Selama 2018 Thou band Sludge/Blackmetal/Doom asal Lousiana,Baton Rouge ini telah berhasil merilis 4 full album dan 1 album split bersama Ragana band duo feminist. Tidak seperti album terdahulunya, 5 album mereka kali ini lebih variatif dalam segi konsep dan sound. The Hammer pada album Inconsolable lebih terdengar balada serta vocal clean dari kedua vokalis wanita anyar yg mulai masuk bergabung kedalam bagian band ini (dalam gigs tertentu). Berbanding pada album Magus pada track ke1 yaitu Inward, menghujam dengan riff sludgy dan vocal scream yg tinggi adalah comeback bagi mereka dan memang emosi dari Bryan Funck selaku vokalis menyebar. Berikut adalah urutan album terbaik 5 album ini menurut saya:


5. Let Our Names Be Forgotten


4. The House Primordial

3. Rhea Sylvia


2. Inconsolable


1. Magus





Mungkin ini adalah satu satunya musik yg paling pendek durasinya yaitu 1 detik, namun di youtube tertera 2 detik sebenarnya. Adalah lagu milik Napalm Death band Grindcore.






Semenjak rilisnya pada Mei lalu, lagu milik darkthrone ini menuai banyak pujian dari pada fans terutama. Banyak orang yg telah menunggu album terbaru darkthone ini, dan pada saat lagu ini rilis rasanya seperti oasis di padang pasir yg menghilangkan rasa dahaga para fansnya yg haus akan musik musik terbaru dari Darkthrone. Selain itu ada sisi unik pada lagu The Hardships of The Scots ini yaitu adalah riff awal mereka yg mirip dengan lagu milik ACDC berjudul Let Me Put My Love Into You. Jika kalian mendengarnya dengan jeli memang sangat mirip riff pada kedua lagu ini, apakah darkthrone menjiplak? atau memang mereka sengaja karena terinfluence. Yg pasti sedikit perbedaan adalah dari tempo lebih slow/dingin/kelam yg disajikan oleh Darkthone. Kalian bisa mendengarkan perbedaannya langsung dibawah ini:





1. Melvins (Dale Crover dan Coady Willis)



2. Kylesa (Carl McGinley dan Eric Hernandez)



3. King Gizzard And The Lizard Wizard ( Michael Cavanagh dan Eric Moore)





Dari tanah air terdapat 4 album yg sangat saya sukai dari segi musik, artwork, aksi panggung serta yg lainnya. Berikut adalah beberapa album terbaik versi saya:

1. Auman (Suar Marabahaya)



Yg pertama adalah Auman, band asal palembang ini bergenre stoner/hardcore/punk. Band ini sebetulnya telah bubar, dibentuk pada tahun 2010 dan bubar pada 2015. Mereka memilih isu lingkungan, penebangan hutan dan populasi satwa khas mereka yaitu harimau sumatra untuk setiap liriknya, sebagai pengungkapan keresahan.

2. Komonal (Hitam Semesta)



Band asal Bandung ini bergenre Heavy Metal, terinfus oleh musik musik nola seperti Down. Lirik lagu mereka seputar kehidupan heavy metal dan isu sosial. Beberapa kali pun menonton Komunal saya rasa tidak akan pernah bosan karena aksi panggungnya dan setiap lagu mereka enak untuk sing a long.

3. Sigmun (Crimson Eyes)



Saya mendengarkan Sigmun pertama kali dan langsung jatuh cinta. Track track seperti vulture dan In The Horizon yg selalu buat saya menganggukan kepala dan selalu menikmati setiap transisi pada lagu mereka. Vokal dari Haikal Azizi yg khas sepeti Robert Plant memang tidak diragukan lagi. Salut.

4. Eviction (Suara-Suara)



Mengenal band ini asalnya dari mulut kemulut diceritakan oleh teman. Lalu saya search lagu mereka lewat soundcloud dan lagu pertama yg saya dengar adalah Smoke, Read and Revolt. Detik awal saya mendengar, saya langsung tahu mereka mengidolakan Black Sabbath. Karena mereka memakai sampling War Pigs pada awal lagu ini.