Pertengahan tahun 2019 adalah pertama kalinya saya menuju dan akan
meresakan skena hardcore/punk. Aku identic dengan skena punk itu sendiri, namun
bila skena hardcore aku masih awam sekali. Aku tahu hardcore emang sejak dari
SMP, namun belum memiliki ketertarikan pada saat itu. Aku memiliku ketertarikan
genre lain yaitu kepada heavy metal beserta turunannya hingga saat ini. Ada
yang membuatku sedikit familiar untuk masuk skena hardcore sih, ada beberapa
kelompok hardcore yang memang benar-benar bermusik tanpa merusak dirinya
sendiri. Hmm… kalian paham maksudku? Okelah mungkin bukan rahasia lagi jika
skena underground seperti punk pasti kebanyakan dari mereka bermusik dengan
mengkonsumsi alcohol dan yang paling mainstreamnya adalah merokok. Aku sendiri
sebenrnya tidak masalah dengan hal tersebut, aku bahkan memiliki teman yang 99%
adalah peminum. Namun diskena hardcore ini ada istilah Straight Edge, istilah
itu adalah dimana beberapa orang atau sekelompok orang bermusik hardcore dengan
sama sekali mengkonsumsi hal-hal seperti itu dengan alasan menjaga kesehatan.
Kelompok ini meyakini bahwa mengkonsumsi hal tersebut adalah merusak
kesehatan, dan aksi yang dilakukan
kelompok ini adalah menjauhi hal tersebut. Ternyata ada yang match dari
kehidupanku dengan skena ini.
Walau berdiri
sejak pertengahan 2019, band keduaku ini sangat rajin membuat lagu. Namun pada
saat itu masih belum menemukan bassis. Saat itu personil masih bertiga, aku
gitar, Viqri pada drum dan Hanas pada vocal. Dan saat itu Band kita sementara
bernama Strike! Strike! Strike!. Aku tidak terlalu ingat apa alasan si Hanas
menamainya seperti itu. Sempat vakum sementara pada November dan Desember awal
2019, sebab aku memiliki rangkaian tur dari band yang pertama. Mau tidak mau
band hardcore ini dikatakan aktif lagi setelah tur ku selesai. Pada saat itu
kami sempat mempunyai beberapa opsi pilhan untuk menduduki titel bassis pada
band ini. Seiring bergulirnya waktu, kami fix mendapatkan bassis pertama kami
yaitu Obing, Temannya si Hanas yang asalnya pernah punya band bareng bernama
Bankshot. Personil sudah kumplit, setiap minggu kami getol untuk brifing dan
pergi latihan mematangkan materi. Karena tujuan kami waktu itu adalah membuat EP
atau mini album terlebih dahulu. 4 Lagu telah selesai urutan dari track 1
sampai 4 berjudul, Itu Bukan Depresi, Itu Kapitalisme, Sabda Profan Single Drop
Tebar Sompral, Jungkir Balik Fatalistik, Dan yang terakhir berjudul Exorcist. Untuk
judul dan lagu sendiri itu sebagian besar dibuat oleh Hanas, karena memang
Hanas lah yang mengajakku untuk bergabung pada band ini. Aku berkontribusi pada
bagian menulis lagu saja dan ide-ide seperti gimik dan promosinya itu kumpulan
ide bareng-bareng.
Sepakat band
kami pada saat itu bernama Single Drop. Band ini terinfluence oleh hardcore
oldschool yang memiliki riff riff powerful dan catchy. Refused, Tunrstile,
Downset hingga band thrash metal Power Trip dan Exodus adalah acuan kami dalam
membuat musik. Desember 2019 akhir kami berniat untuk memulai melakukan rekaman
untuk EP, niatnya sih pertengahan 2020 EP kami bisa segera rilis. Jadi progress
pada saat itu aku baru menyelesaikan take gitar saja untuk 4 lagu ini.
Selanjutnya kami harus mengatur ulang jadwal lagi untuk take bass, drum hingga
vocal. Sempat ada tawaran bermain diGigs bernama Los Covos, bertempat diUnpas
setiabudhi pada tanggal 7 Februari 2020. Namun sayang sekali, nama kami hanya
numpang diFlyer saja, kami tidak jadi bermain. Karena drummer kami yang bernama
Viqri harus pergi ke Bali. Aku merasakan hal berbeda dengan bandku sebelumnya,
bandku ini mungkin pertama kalinya aku harus langsung siap dengan segala
timeline yang dibuat oleh kami bersama demi kemajuan band ini. Dan hal lain
yang aku rasakan adalah bagaimana rumitnya menjadi gitaris hardcore yang dalam
satu lagu memiliki banyak part dan aksen setiap bagian lagunya, entah direpeat
menjadi lebih pelan atau bahkan dikombinasikan dengan riff lainnya. Hal
terakhir yang aku sukasaat memainkan musik ini adalah saat Breakdown. Aku
menikmati dengan dua bandku ini, hobi yang bisa membuang semua penat. Bisa
bersenang-senang dengan teman saat latihan dan bertemu teman baru diGigs adalah
keunikan mempunyai band, tentu band underground. Yang segala sesuatunya kita bisa
tentukan sendiri, aku tidak perlu pasar atau laguku harus diatur seperti
band-band yang memiliki record label super terkenal. Aku bisa membuat apa yang
aku mau, makna kebebasan berekpresi didapat saat aku ngeband. Aku harap bisa
merasakan ini sampai tua nanti.
0 comments:
Post a Comment